Sabtu, 01 Agustus 2015

The City of Garbage

I just got back from my hometown a week ago, and I was really really sad when I realized that we are actually living in the city of garbage. 



Hanya ingin berbagi pemikiran, tidak untuk menjadi guru, tidak pula untuk menyinggung siapapun. Hanya berusaha untuk membuat saya, anda, kalian, dan kita berinstropeksi diri akan apa yang sudah kita semua lakukan terhadap bumi. 

Gabungan foto-foto di atas di ambil pada tanggal 23 Juli 2015 di beberapa lokasi di tol Cikampek. Saya dan keluarga sedang berada di tengah-tengah lautan mobil dan manusia ketika saya menyadari hampir di sepanjang jalan dan beberapa tempat pemberhentian di Tol Cikampek dan Tol Cipali berserakan sisa-sisa  pembuangan hasil dari aktivitas manusia atau disebut juga dengan sampah. Beberapa foto di atas hanya sebagian kecil dari keseluruhan sampah yang saya lihat di sepanjang dua tol tersebut (pemandangan yang lebih menyedihkan dapat dilihat dengan jelas di beberapa tempat pemberhentian). Sayang saya baru dapat megambil gambar ketika berada di tol Cikampek.


The pictures tell everything. Tidak perlu berkata-kata manis ataupun memaki-maki untuk menunjukkan hal-hal kecil dari kebiasaan manusia yang melukai alam.
The eyes witness every little thing. Jutaan mata manusia yang melewati kedua jalan tol tersebut pasti menyaksikan betapa "indah" nya sampah-sampah yang menjadi hiasan di sepanjang jalan.  
But, the heart has blinded by our selfishness. Namun, kenapa hati hanya berdiam diri? the answer can be anything and anywhere, but I think the answer will appear when I and you realize the importance of the world we live in. When we realize that we cannot be selfish toward the earth.

 We are living in the city of Garbage. Tidak pernah saya dan kita menyadari bahwa selama ini kita hidup di atas keserakahan, kebutaan, dan keegoisan manusia terhadap alam, terhadap bumi, dan terutama terhadap Tuhan yang telah memberikan kita kesempatan untuk menghirup udara serta menyaksikan salah satu kreasi terindah-NYA. Sampah merupakan salah satu bukti nyata keegoisan dan keserakahan itu.

We are or not doing a good thing. Mudik, pulang ke kampung halaman untuk bertemu sanak keluarga, untuk bersilaturahmi menjalankan salah satu kebaikan yang juga perintah agama. Kebaikan silaturahmi itu bagaimana nilai nya jika saya dan anda melakukan kesalahan/keburukkan di dalamnya. Kesalahan dengan melukai bumi dan penciptanya.  Jika kebaikan dan keburukan tersebut kita masukkan ke dalam hitungan matematika, maka akan di dapatkan 1-1=0. Apa yang kita dapat? Walaupun kembali lagi kebaikan dan keburukan manusia hanya Tuhan yang menilainya.

I 100% believe that we all know the impact of hurting the earth, the nature. I won`t say a thing. However, I cannot believe if we are still hurting the earth when we know what the earth can do to us.

Sekali lagi, tulisan di atas hanya sebuah opini tanpa ada sedikit pun keinginan untuk menyinggung siapapun.Tulisan di atas khususnya dibuat untuk mengingatkan diri saya sendiri yang sering khilaf dalam banyak hal.


picture: Google image




Tidak ada komentar:

Posting Komentar